Judi online tidak pernah sepi dari pemberitaan. Sudah banyak korban baik itu korban bunuh diri maupun membunuh orang lain dengan cara merampok untuk memenuhi kebutuhan judi mereka.
Tentu hal yang sangat mengkhawatirkan bagi kita semua. Tentu menjadi hal yang sulit diatasi bila para penjudi online ini tidak memiliki kesadaran yang cukup untuk keluar dari masalah mereka sendiri. Apalagi saat ini pelaku judi online dari kalangan anak-anak hingga ibu rumah tangga. Sungguh ironi dan sangat mengkhawatirkan.
Pecandu judi online disebut memerlukan kesadaran sendiri agar bisa terlepas dari kecanduannya.
Pernyataan itu disampaikan Psikolog Jambi, Ridwan bahwa kecanduan biasanya bisa bermula dari seseorang yang hanya ingin coba-coba.
Terlebih ketika pelaku judi online sudah mendapatkan satu kali kesempatan yang dianggap menang.
DOSEN Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin (UIN STS Jambi) yang juga psikolog di Jambi, Dr. Ridwan, MPsi, memaparkan pejudi online perlu memiliki kesadaran sendiri untuk lepas dari kecanduannya.
Kecanduan, biasanya bisa bermula dari hanya ingin coba-coba dan kemudian menjadi sebuah kebiasaan yang sulit untuk dilepaskan.
Meski demikian, rasa penasaran akan terus memasuki alam bawah sadar.
Apalagi ketika pejudi online sudah mendapatkan satu kali kesempatan yang dianggap sudah memenangkan sejumlah uang.
Itu membuat penasaran untuk terus mencoba, agar selalu menjadi pelaku judi yang menang.
Padahal, kata menang itu hanya halusinasi bagi mereka dan bukanlah sebuah kenyataan.
“Padahal kata menang itu hanya halusinasi bagi mereka. Itu hanya permainan yang tidak akan pernah dimenangkan,” ujarnya, Senin (17/6/2024). Itu hanya permainan yang tidak akan pernah dimenangkan oleh mereka.
Para pejudi online akan terus terpuruk sampai mereka benar-benar merasa hancur sendiri.
Rasa hancur mereka alami sampai banyak orang yang tidak menginginkan kehadirannya, membuat semakin terpojokkan.
Di saat setiap orang yang mereka temui tidak lagi memiliki rasa peduli dan simpati dan mereka merasa sendiri, di situlah penyesalan mulai muncul.
Biasanya, penyesalan yang muncul itu membuat mereka bisa mulai memperbaiki diri.
Karena tidak ada satu pun pihak eksternal bisa membuat mereka sadar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Hanya mereka sendiri yang bisa mengubah kebiasaan telah melekat itu.
“Tetapi jangan sampai orang terdekat mereka justru memberi semangat dengan cara memojokkan seperti kalimat itulah kenapa kemarin nggak mau dengar kata aku”. Itu kalimat yang tidak betul untuk diucapkan dan membuat mereka akan kembali ke masa suram itu,” ungkap psikolog asal Provinsi jambi.
Hanya mereka sendiri yang bisa mengubah kebiasaan telah melekat itu.
Tetapi jangan sampai orang terdekat mereka, justru memberi semangat dengan cara memojokkan.
Seperti kalimat “itulah kenapa kemarin nggak mau dengar kata aku”.
Itu kalimat yang tidak betul untuk diucapkan dan membuat mereka akan kembali ke masa suram itu.
Artikel ini telah tayang di TribunJambi.com dengan judul Analisis Psikologi Ungkap Judi Online dan Ilusi Kemenangan, Ini Sebabnya Pejudi Selalu Kalah, https://jambi.tribunnews.com/2024/06/17/analisis-psikologi-ungkap-judi-online-dan-ilusi-kemenangan-ini-sebabnya-pejudi-selalu-kalah.
Penulis: tribunjambi | Editor: Edmundus Duanto AS


Tinggalkan Balasan