Beranda / Berita / Bermain Adalah “Pekerjaan” Utama Anak: Fondasi Tumbuh Kembang di Usia Dini

Bermain Adalah “Pekerjaan” Utama Anak: Fondasi Tumbuh Kembang di Usia Dini

Diterbitkan:

Oleh:

Kategori:

8 views

Diterbitkan:

Kategori:

Oleh:

8 views

Salah satu dosen PAUD difakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN STS Jambi, Dr (c) Indra Bangsawan, M.Pd., Memberikan pandangannya mengenai pendidiakn anak, salam sebuah forum bliau menyampaikan bahwa Di era modern saat ini, tekanan agar anak-anak segera menguasai kemampuan akademis sejak dini kerap kali menghantui para orang tua. Tidak sedikit yang merasa cemas ketika melihat buah hatinya lebih memilih menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain alih-alih duduk manis menghafal abjad atau berhitung. Padahal, kekhawatiran ini sering kali tidak berdasar. Bagi anak usia dini, bermain bukanlah sekadar aktivitas pengisi waktu luang, melainkan esensi utama dari proses tumbuh kembang mereka.

Bermain adalah “pekerjaan” yang sesungguhnya bagi seorang anak. Melalui aktivitas bermain, anak-anak memiliki ruang seluas-luasnya untuk mengeksplorasi dunia di sekitar mereka. Saat mereka berlari, melompat, atau memanjat, mereka sedang melatih dan memperkuat kemampuan motorik kasar. Sementara itu, aktivitas seperti meronce, merangkai balok, atau mencoret-coret kertas secara natural mengasah motorik halus yang sangat penting bagi koordinasi tangan dan mata.

Lebih dari sekadar aspek fisik, bermain juga menjadi laboratorium pertama bagi anak untuk memahami lingkungan sosial dan emosional mereka. Ketika bermain bersama teman sebaya atau orang tua, anak belajar tentang konsep berbagi, mengantre, memecahkan masalah, hingga mengelola rasa frustrasi saat menghadapi situasi yang tidak sesuai keinginan. Seluruh rangkaian pengalaman ini membangun kecerdasan emosional dan ketahanan mental yang tidak bisa didapatkan hanya dengan menghafal buku teks.

Memaksa anak seusia balita untuk fokus pada pembelajaran akademis formal justru berisiko mematikan rasa ingin tahu alami mereka. Otak anak pada fase ini berkembang paling optimal melalui pengalaman nyata yang melibatkan panca indra, bukan melalui doktrin abstrak. Oleh karena itu, sudah saatnya orang tua mengubah perspektif dan tidak merasa bersalah saat membiarkan anak-anak mereka bermain. Berikan kebebasan bagi mereka untuk menikmati masa kecilnya. Sebab, fondasi mental, kreativitas, dan karakter yang kokoh di masa depan justru berakar kuat dari setiap permainan yang mereka nikmati hari ini.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *